Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

Yuk, tidak berbuat apa-apa!

Beberapa saat lalu saya membaca sebuah buku berjudul 'Berbuat Baik itu Mudah'. Kebetulan diluar sedang hujan deras dan Makassar dilanda banjir. Selain itu, jaringan wifi di kantor kami sedang tidak lancar. Salah satu alasan saya untuk menunda pekerjaan dan malah mondar-mandir penuh gelisah. Entah dorongan apa yang menghasut saya untuk membaca salah satu buku yang disimpan teman kantor di dalam loker arsip. Buku tipis yang sepertinya ditujukan untuk anak SD dengan sampul bergambar anime.

Jika menilai dari sampulnya, jelas saya tidak tertarik. Namun seperti pepatah 'Jangan menilai buku dari sampulnya', saya pun membuka buku tersebut dan mulai membaca daftar isi. Satu yang menggelitik, sebuah sub bab dengan tulisan 'Yuk, tidak berbuat apa-apa!'.

Apa-apaan! Buku macam apa yang mengajarkan pembacanya apalagi anak kecil untuk tidak berbuat apa-apa. Kemudian saya teringat buku Mark Manson 'Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat'. Sebuah bacaan aneh untuk generasi sekarang ini. Generasi yang terlalu memusingkan banyak hal dan sepertinya butuh asupan 'vitamin bodo amat' agar tidak terlindas jaman.

Setelah merenung beberapa saat, saya memutuskan untuk mulai membaca. Barulah saya ngeh, yang dimaksud dengan tidak berbuat apa-apa adalah bermeditasi. Menurut ajaran Budha, meditasi membantu kita untuk mengontrol pikiran yang merupakan sumber kebahagiaan dan penderitaan umat manusia. Tapi jangan salah, walaupun saya meluangkan waktu untuk membacanya sampai habis, saya tidak akan membahas meditasi ataupun agama di sini.

Tidak berbuat apa-apa, kedengarannya sangat mudah untuk dilakukan. Sejenak saya berpikir ini adalah salah satu keahlian saya -Tidak berbuat apa-apa-, toh memang saya pemalas kan. Apa susahnya.

Tapi, tidak berbuat apa-apa menurut buku ini bukanlah tidur-tiduran, bermain hape, nonton youtube, atau bermalas-malasan di kasur saat musim hujan. Melainkan, duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Tidak bermain hape, nonton ataupun berpikir macam-macam. So, you are literally doing nothing! Hanya duduk dan memusatkan pikiran pada suatu hal.

Singkatnya, meditasi! (tuh kan bahas meditasi, padahal tadi bilangnya tidak)

Saya teringat kejadian dua hari lalu. Hari minggu pukul 5 sore, akhirnya saya terpanggil ke gereja setelah beberapa bulan mencari hidayah dan diomeli keluarga hehehehe. Menurut saya bermain hape di dalam gereja adalah sebuah tindakan yang tidak sopan, dapat mengganggu ibadah orang lain dan tanda orang yang tidak tulus ibadahnya. Memang saya adalah Katolik musiman, alias ke gereja saat ada niat saja tapi saya juga sangat tidak mempercayai manfaat ke gereja kemudian bermain Hape. Paling lucu lagi ketika melihat beberapa umat yang masih saja memaksakan diri membuat instastory di tengah-tengah ibadah, plus hastag #happysunday bla bla bla. Rasanya pencitraan sekali. Beribadah adalah urusan pribadi dengan Tuhan, tidak perlu di upload sana sini bukan?

Tapi saya paham, setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda. Mungkin saja itu adalah salah satu jenis ujian dari Tuhan, sampai saya pun diuji dengan prinsip tersebut. Rasanya sangat susah untuk tidak mengecek hape dalam kurun waktu beberapa menit. Seperti ada sebuah aturan dalam otak untuk menggerakkan tangan secara otomatis melihat apakah ada notifikasi baru, atau sekedar swipe kiri, swipe kanan. Walaupun saya tidak pernah memiliki keinginan untuk berfoto atau mengupload instastory saat beribadah, keinginan untuk setidaknya memberitahukan kepada dunia bahwa saya AKHIRNYA PERGI KE GEREJA, sangat sulit dihindari.

Saya sampai harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa sekarang saatnya beribadah, bukannya membalas pesan di WhatsApp, melihat story teman lain, atau hanya sekedar membuka-buka instagram yang rasanya tidak ada manfaatnya saat itu. Bersabarlah! Try to focus, Brain!

Tidak berbuat apa-apa sama halnya beribadah di gereja. Kita hanya perlu duduk manis dan fokus pada satu hal selama kurang lebih satu jam, yaitu beribadah. Kedengarannya sangat gampang bukan? Tapi tidak sesederhana itu. Akan ada begitu banyak distraksi yang membuat pikiran susah fokus, mengantuk misalnya atau memperhatikan penampilan orang lain.

So, siapa bilang tidak berbuat apa-apa itu mudah? Padahal banyak manfaatnya...

Mengejar Mimpi Sampai ke Mesir: Review Buku Sang Alkemis by Paulo Coelho

Sebuah buku filosofi yang ditulis seperti dongeng yang konon kabarnya mampu mengubah hidup pembacanya. 

Mengisahkan seorang pemuda bernama Santiago, Penggembala yang seumur hidupnya 'berpetualang' dari satu desa ke desa lainnya. Setiap malam si Santiago ini selalu mendapatkan mimpi yang sama yakni tentang harta karun yang tersembunyi di piramida-piramida Mesir.

Karena selalu dihantui mimpi yang sama, ia akhirnya mengunjungi seorang penafsir mimpi yang ternyata tidak mampu menafsirkan mimpinya. Hingga suatu hari si Penggembala bertemu seorang kakek yang mengaku sebagai Raja. Sang Kakek menyuruhnya untuk mengikuti mimpinya dan memulai petualangannya ke Mesir. Setelah menjual domba-dombanya, ia pun menggunakan uang hasil penjualanya untuk membeli tiket ke Afrika. Apakah Santiago berhasil mendapatkan harta karunnya setelah merelakan harta satu-satunya yakni domba-dombanya yang kemudian ditipu di negeri orang? Nanti gue tulisin spoilernya,hehehe



Ringan tapi berbobot adalah kesan pertama saya setelah menamatkan novel ini. Dengan menggunakan kisah petualangan yang sangat sederhana, pembaca diajak untuk memahami rahasia-rahasia alam semesta dan pergumulan batin manusia ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sulit.

Untuk orang yang terbiasa membaca novel romance dan metropop, buku-buku karya Paulo Coelho adalah pilihan terakhir dalam list bacaan gue. Secara novelis idaman gue adalah AliaZalea dan tentu Christian Simamora yang terkesan santai dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Sementara untuk buku 'berat' seperti Sang Alkemis ini tergolong susah untuk dicernah otak gue yang tak seberapa ini. 

Awalnya beli novel ini karena pertama: Harga yang murah meriah karena lagi ada promo cashback, Kedua: Reputasi Penulis dan novelnya sendiri. So, selama kerja di Gramedia gue setiap kali ketemu pembeli yang mencari novel Paulo Coelho pasti mereka bilang Sang Alkemis adalah salah satu novel best seller dan berkesan banget buat mereka. Walaupun penasaran, jujur aja gue nggak ada niat sama sekali buat baca buku ini, sampai suatu hari alam semesta berkata lain.... hahaha

Singkat cerita, setelah iming-iming promo tempo hari, gue belilah buku ini hitung-hitung sebagai bacaan cadangan selama liburan natal dan tahun baru. Ternyata oh Ternyata, buku yang awalnya gue labeli 'berat' ini tidak serumit yang kalian bayangkan. Sebelumnya gue juga udah pernah membaca beberapa karya Paulo Coelho yang 'terpaksa' gue selesaikan yakni Selingkuh dan 11 Menit. Ada juga dua novelnya yang masih tersimpan rapih di rak buku saking beratnya buat gue selesaikan. Tapi tidak dengan Sang Alkemis. 

Penulis memberikan gaya yang berbeda seperti berdongeng lengkap dengan kata-kata bijak yang kemudian mengajak kita merenung. Sedikit spoiler ya, jadi si penggembala digambarkan sebagai seorang karakter yang berjiwa bebas dan tidak ingin terikat pada sesuatu. Sementara sisi lain di dirinya sebenarnya ingin 'menetap'. Karakter yang menggambarkan gue banget; memiliki 2 keinginan yang sebenarnya bertolak belakang di waktu yang sama. 

Kadang si penggembala bermimpi untuk memulai petualangannya dan melihat kota-kota lain di tempat yang jauh, tapi di saat yang bersamaan juga ia ingin menikah dan menetap bersama keluarga kecilnya. Sampai akhirnya dia bertemu seorang Kakek yang ternyata suka membantu dan mengompori orang lain untuk tidak menyerah dan mengejar mimpi mereka. Yah, agak kurang kerjaan juga ya si Kakek ini. Sang kakek juga sering memberikan wejangan-wejangan seperti:


 "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya" - Sang Raja

Dusta terbesar itu: Bahwa pada satu titik hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib" - Sang Raja


Disini penulis ingin menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah sebagian besar merupakan buah dari keputusan yang kita ambil. Ketika kita memutuskan untuk mengejar mimpi jangan pernah khawatir akan hasilnya, yakin saja maka semesta akan membantu. Setelah baca buku ini, gue kurang-kurangin deh menyalahkan keadaan hehehehe... Penulis juga ingin menyampaikan bahwa ada saatnya kita harus meninggalkan segala kenyamanan -get out of your comfort zone- dan memulai petualangan, merasakan pahitnya hidup.

Sampai di pertengahan buku, barulah gue sebagai pembaca yang suka penasaran mengenai 'arti judul' sebuah novel dibuat ngeh dan ber'Ooo' ria. Walaupun masih bingung juga sih kenapa judulnya Sang Alkemis karena cerita ini kan tentang si Penggembala yang mencari mimpi kemudian bertemu Sang Alkemis bukan tentang Sang Alkemisnya sendiri. Nanti setelah mencapai akhir halaman, gue pun menyimpulkan kalau ternyata si Penggembala akhirnya menjadi Seorang Alkemis juga karena mampu melakukan hal-hal ghoib macam Roy Kimochi. Sebut saja membaca pertanda-pertanda, mendapat anugerah penglihatan tentang masa depan dan menjadi seperti Avatar yang bisa berkomunikasi dengan Angin dan Padang Pasir.

Oya, ending bukunya bener-bener bikin geleng-geleng kepala. Nggak habis pikir. Dijamin bakal keselll deh habis baca buku ini, apalagi buat kalian yang malas mikir, KZL bangett dong disuguhi teka-teki permainan pikiran. 

PROS:
  • Full kata-kata bijak
  • Bisa ikutan bijak juga setelah baca buku ini
  • Harga terjangkau
  • Halaman tipis jadi enak buat yang malas baca dan bisa dibawa kemana aja apalagi kalau malas bawa buku yang berat banget
KONS:
  • Agak berat untuk dibaca anak SD
  • Nggak suka endingnya walaupun sebenarnya sangat menginspirasi (Maafkan hamba)


Dengan cerita yang sederhana, singkat, nggak tebal-tebal amat, Sang Alkemis adalah salah satu buku yang WAJIB BANGET kamu baca. Walaupun isinya sedikit 'berat' tapi pelajaran hidup yang didapatkan sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tinggalkan dululah novel romance dan teenlit remaja, yuk olahraga otak dulu dengan buku-buku Paulo Colheo ini, hehehehehehe.


BOOKS AND OLD MEMORIES




Udah tiga hari ini gue selalu bangun cepat, lebih tepatnya nggak ikhlas bangun tapi HARUS bin WAJIB karena ngurusin dokumen pagi-pagi demi masa depan yang lebih baik. Akibatnya gue nggak punya waktu banyak di kamar mandi. Padahal waktu produktif gue (baca: waktu produktif buat otak gue mikir hal-hal random) ya di kamar mandi. Kadang gue suka lama-lama, bukan karena lama sabunannya, tapi karena lama mikir alias merenung nggak jelas. Kadang otak gue suka mikir yang aneh-aneh dan , saking anehnya, kadang gue sendiri heran kok bisa otak gue memproduksi hal-hal seperti itu, kok bisa gue mikir serandom itu, sampai ketawa sendiri bahkan galau sendiri.

Pikiran random di kamar mandi seperti ini bisa mempengaruhi keseharian gue. Ada momen dimana pikiran-pikiran itu membuat gue seneng dan senyum-senyum sepanjang hari, sementara di hari lain sedih tanpa alasan. Sometimes, i live my life like a fantasy movie, and the other day like a real nightmare. Cara gue berpikir ini mempengaruhi cara gue berinteraksi dengan orang lain. Ada kalanya jadi sangat usil dan suka gangguin orang, lalu besoknya jadi super introvert dan sibuk dengan dunianya sendiri.


Pikiran gue ini nggak muncul dengan sendirinya. Bisa karena nonton film, baca novel bahkan nonton video dokumenter Female Killers atau Unsolved Supernatural di youtube. Misalnya, gue bisa senang tanpa sebab and stay positive walaupun dimarahin atasan gara-gara baca Summer in Seoulnya Ilana Tan. Rasanya seperti punya harapan yang menghasilkan pikiran-pikiran positif, membayangkan tempat-tempat yang keren, kamar yang nyaman, cuaca yang bersahabat bahkan aroma kopi yang enak. Kalo kalian udah baca novelnya, i'm sure you'll agree gimana Ilana Tan memberi kita sebuah cerita romance penuh imajinasi yang bisa memberi asupan bagi para jiwa fangirl. Kemudian mood gue ini bisa dengan sangat cepat berubah jadi suram ketika membaca All the Bright Places-nya Jennifer Niven dan gimana gue bisa memandang dunia tanpa harapan ini dari sudut pandang Theodore Finch, dimana kematian rasanya lebih seru dibanding menjalani hidup yang membosankan.


Terkadang gue nggak ngerti gimana cara kerja sel-sel di otak manusia. Even my own brain. Gue bahkan nggak suka dengan cara berpikir otak gue yang sudah terkontaminasi realita. I'm a daydreamer, and i hate reality, but i have to face it like right now.

23 tahun bukan lagi usia yang pas untuk berhayal. Bahkan jika bersusah payah mencoba, i mean i even tried to imajine this and that, tapi rasanya udah nggak sama lagi ketika gue masih duduk di bangku SMP.  Berhayal tidak lagi semenyenangkan dulu.

Dulu gue sering melalui hari dengan cara yang berbeda dari orang pada umumnya. I like to dramatisize everything for fun. i think all of us do that, i just wanna hide from reality and create a new world in my head, where i could have a lot of friends, dragons, elfs, dwarfs, magic wand, and my Prince Charming. But time goes on, we all grow up and so do i.


Sekali lagi, 23 tahun bukan usia yang cocok untuk berhayal dan buku sangat-sangat membantu dalam hal ini, oh and a good song too. Gue sadar, gue nggak bisa lagi berhayal ini itu. Otak gue nggak pernah bisa istirahat, bahkan menjelang tidur pun gue masih aja banyak pikiran tapi bukan hayalan. Pengennya berhayal, tapi lagi lagi tidak semenyenangkan dulu. Baru juga berhayal dikit semisal punya rumah dengan konsep minimalis dengan banyak tumbuhan merambat di dinding-dindingnya yang berlumut, eh langsung dibuyarkan dengan fakta bahwa harga rumah mahal. Berhayal punya kamera baru, eh dibuyarkan lagi dengan fakta kalo harga kamera mahal dan harus milih antara beli kamera atau motor atau traveling atau novel-novel baru atau tiket konser wanna one :'(. SIGH!


Buku biasanya menjadi alternatif terbaik gue kalau lagi pengen melarikan diri dari kenyataan. Dan seperti tagline iklan L-men "Trust me, it works". It's like a sweet escape. Great books will transport you from this world  into another. Buku juga bisa jadi mesin waktu. Kadang dengan membaca, otak  dengan anehnya membawa kembali ingatan-ingatan masa lalu yang nggak selamanya menyenangkan. FYI, ingatan yang menyenangkan di masa kecil gue terhenti di natal 2006, dan dimulai lagi ketika masuk kuliah 2012. Periode di antara itu, i don't really remember. Terkadang gue susah membedakan mana ingatan yang nyata dan mana yang hayalan.


Bisa dibilang periode kebahagiaan gue bisa dibagi dua: 1. Pas masih sekolah di Hogwarts bareng Harry Potter, kadang kita suka mampir ke Hogsmade buat minum butterbeer, dan 2. Pas tinggal di Korea bareng oppa-oppa cakep sambil sapu-sapu jalan dari daun musim gugur (walaupun dua-duannya sampai sekarang sih) Diluar dari itu, gue nggak punya ingatan apa-apa lagi. Lebih tepatnyaa gue males buat inget-inget memori yang nggak menyenangkan!! i hate those sad stories of my life, dan sialnya terkadang gue ketemu buku yang bikin gue kepikiran sama semua hal yang gue nggak suka di masa lalu. Damn!


Gue tipe orang yang bakal baca satu buku berkali-kali like Harry Potter, novel-novel Ilana Tan, bahkan Dunia Cecilianya Jostein Garder. Padahal buku-buku lain masih antri sampai berdebu tak kunjung buka segel. (Boss, maaf nih saya butuh cuti seminggu buat baca semua novel saya, kasian kan udah dibeli tapi nggak ada waktu buat bacanya *smirk*) Alasan utamanya karena novel-novel ini justru membawa memori yang menyenangkan. As i said before, book is a time machine. Baca Winter in Tokyo bikin gue berasa kembali ke Jepang tahun 2013 yang bersalju, dan Summer in Seoul membawa gue ke Seoul nonton konsernya Jung Tae Woo, belum lagi Autumn in Paris...!OH MY GOD!! MY FAVORITE NOVEL EVER!! Tuh kan jadi kangen sama Tatsuya. Oh dan jangan lupakan ketujuh novel Harry Potter yang sangat-sangat mampu membawa kembali memori masa kecil gue yang menyenangkan. Salah satunya adalah waktu pertama kali masuk Gramedia liburan Natal 12 tahun lalu dan pas juga peluncuran buku Harry Potter and the Half Blood Prince.

Untuk mengakhiri tulisan ini, gue bakal mengutip kata-kata J.K Rowling

                                     Image result for quote jk rowling YOU CAN FIND A MAGIC IN A GOOD BOOK
So, buku bukan hanya kumpulan kertas yang menguning dan tinta yang akan buram termakan waktu, it's just another world.







WHAT BOOK TO READ



Hai everyone! welcome to my blog

Seperti yang bisa kalian ramalkan dari judulnya, sekarang gue bakal ngasih tau buku-buku apa aja yang bagus buat kalian baca. If you know me, gue yakin kalian bakal tau kalo di kosan gue nan kumuh ada banyak banget buku-buku hasil buruan dari bazar buku, promo buku murah Gramedia dan tentu saja beli sendiri. Khusus untuk beli sendirinya, FYI aja yah gue harus menabung selama sebulan supaya bisa membeli novel-novel favorit gue, contohnya Harry Potter hard case yang gue yakin kalian tahu harganya berapa. Walaupun untuk mengoleksi ketujuh serinya gue hanya bisa puas dengan 2 buku soft case, jadi nggak semua koleksi gue itu hardcase. Sad. Bahkan untuk Harry Potter and the half blood prince boleh dapat dari sumbangan seorang teman, dan Harry Potter and the deathly hollows juga dapat dari bazar buku Gramedia dengan harga yang murah meriah mencret. 

Gue yakin kalian juga pasti pernah merasa galau gulita ketika sedang ke toko buku dan ada banyak buku-buku dengan sinopsis yang tampak menjanjikan tapi keadaan dompet nggak mendukung dan akhirnya cuma bisa beli satu atau dua buku saja, so here some tips what book to buy and read!!

  • Bacalah buku sesuai mood

Well, apa cuman gue disini yang baca buku sesuai mood? Gue tahu ada banyak di antara pecinta buku yang menargetkan akan baca sejumlah buku dalam kurun waktu tertentu dan kemudian berakhir hanya menjadi target semata dan nggak dapat apa-apa. Misalnya, ada yang menargetkan untuk membaca 10 buku dalam sebulan. 10 buku ini menjadi target yang diburu deadline waktu, dan akhirnya kalian nggak akan bisa menikmati proses atau momen membaca buku tersebut. 

Baca buku itu nggak harus dipaksain. Membaca adalah proses kita untuk merasakan apa yang ditulis dalam buku, semisal membaca novel sad romance yang juga membuat kita sedih, atau love storynya yang juga membuat kita berbunga-bunga. You'll find a magic in a good book kata JK. Rowling, dan untuk bisa mendapatkan feel dari sebuah buku harus sesuai mood. Jangan paksakan untuk membaca buku bisnis kalau mood kalian lagi pengen-pengennya baca buku Kpop, atau jangan paksakan membaca novel misteri kalau sedang ingin membaca novel romance, because you can't get the feeling! 
  • Try something new!
Gue pernah kerja di toko buku sebut saja Gramedia selama setahun, dan disitu gue belajar melihat minat-minat pembaca dan cerita-cerita pengalaman mereka dalam membaca buku. It was so fun! Seneng juga akhirnya bisa ketemu orang-orang yang memiliki minat serupa. Awalnya gue bukan orang yang suka baca novel detektif seperti Sherlock Holmes, atau buku-buku karya John Grisham karena topiknya yang menurut gue terlalu berat dan sebaiknya nonton filmnya saja, sampai suatu hari gue ketemu sama penggila Sherlock Holmes (sebut saja Mawar) yang menyarankan untuk baca salah satu cerita karya Sir Artur tersebut. Karena gue penasaran ditambah dengan teknik menjelaskan dari si Mawar yang jauh lebih hebat dari teknik marketing gue yang notabene the salesgirl waktu itu, gue memutuskan untuk membaca si Sherlock via HP alias download PDFnya. So, i tried something new dan sekarang buku Sherlock Holmes dengan cover setengah kepalanya si Benedict Cumberbatch sudah bisa ditemukan di salah satu rak (baca: tumpukan) buku di kamar kosan.
  • Buku sesuai Kebutuhan
Membaca buku sesuai kebutuhan mungkin sedikit bertentangan dengan poin pertama di atas, karena mood nggak selalu sejalan dengan kebutuhan. Misalnya, ada satu momen dimana kalian sedang mood untuk membaca Fan Fiction EXO, sementara disaat yang sama kalian butuh untuk membaca buku Rich Dad, Poor Dad-nya Robert T. Kyosaki untuk tugas resensi. Gue bukan orang bijak, bahkan kepribadian gue sangat jauh dari kata bijak, tapi mungkin gue bisa ngasih masukan untuk situasi kayak gini yaitu dahulukan kebutuhan. Gue sering mengalami situasi buruk seperti ini (dramatisasi) ketika sedang berada di toko buku. Gue lupa persisnya kapan. Waktu itu gue pengen banget beli buku The wolf of the wall street, dan momen dimana buku yang gue cari-cari itu sudah ada di genggaman... i saw it! Autumn in Paris karya Ilana Tan. Novel ini gue baca waktu masih di bangku SMA, dan kalo kalian sudah baca juga, gue yakin kalian setuju kalau novel ini layak mendapatkan bintang 9 dari 10. Dan kalian bisa menebak buku mana yang gue bawa pulang waktu itu tentu dengan rasa menyesal tak karuan karena mengikuti keinginan semu. Hahahahahaa...

Sekarang gue bakal ngasih list top 5 Indonesian Novel  mana yang bagus :

  1. Autumn In Paris by Ilana Tan (all Ilana Tan's novels are my fav, actually!)
  2. Melbourne Rewind by Winna Effendi
  3. Crazy into you by AliaZalea
  4. Pillow Talk by Christian Simamora
  5. Teman Tapi Menikah 
Thats it! hope you enjoy... >.<